2.16.2012

Antara Pekalongan dengan Keris

Ini adalah perjalanan kedua kali saya ke kota Pekalongan. Kali ini saya menemani Bapak dalam acara peresmian Graha Tosan Aji Kota Pekalongan, karena saat ini Bapak adalah sekjen dari Sekretariat Perkerisan Nasional Indonesia (SNKI). SNKI itu sendiri menjadi wadah dan forum komunikasi masyarakat perkerisan di Indonesia yang ditangguhkan pada 24 Maret 2006 sebagai respon dari masyarakat perkerisan nusantara atas dikukuhkannya keris sebagai cagar budaya tak benda dari UNESCO. Saya beserta rombongan yang terdiri dari ketua SNKI yaitu Bapak Herman Sumarno (beliau sempat menjadi mentri SDM pada masa pemerintahan SBY jilid satu), penyanyi keroncong kondang Ibu Sundari Sukotjo yang beliu sekaligus menjadi public relation dari SNKI (belau tetap masih cantik), Mas Birul (wartawan majalah Keris), dan beberapa staff lainnya, jadi kami serombongan berjumlah 10 Orang. 


Kereta Argo Muria berangkat dari Stasiun Gambir pada jam setengah delapan, yang kemudian tiba di Pekalongan pada jam setengah satu siang, everything was ontime. Di Pekalongan kami menginap di wisma dinas milik pemerintah kota Pekalongan. Wisma tersebut mungkin untuk lingkup kota Pekalongan sudah termasuk rumah mewah sih. Jadwal pertama adalah kunjungan ke Museum Batik Pekalongan, di dalamnya mungkin hampir dapat saya katakan sama saja dengan museum batik yang ada di kota Solo. Dipandu langsung dari pihak museum, kita diajak berkeliling untuk lebih mengenal Batik Pekalongan yang menjadi salah satu jagoan dari pada golongan corak batik pesisiran. 




Tampak Depan Museum Batik Pekalongan

Ciri khas yang dapat simpulkan dari Batik Pekalongan dari sudut pandang saya adalah warnanya yang ‘kuat’ dan berani, seolah si pemakai siap untuk menjadi pusat perhatian dari khalayak. Jikalau warnanya tersebut terbuat dari pewarna alam, maka kesan vintage akan terlihat. Saya juga melihat kalau Batik Pekalongan sangat pas dengan kebaya encim. Hal itu terlihat dari contoh manekin yang terpajang di dalam museum. Dapat saya bayangkan bagaimana cantiknya gadis-gadis pekalongan dulu disaat mereka berlenggang menuju pasar menggunakan payung berbahan kertas, berlukis bunga warna-warni atau burung phoenix. Kulit-kulit mereka yang coklat melenggam karena terbakar matahri pesisir pantai, namun manis. Menjadikan kesan sangat ayu, lincah, dan memiliki eksotika tersendiri dalam benak saya. Ya… kemerdekaan jiwa wanita tergambar jelas melalui Batik Pekalongan. 


Disana kami diajak untuk melihat bagaimana proses pembuatan batik. Bukan cerita yang baru bagi saya untuk ini, karena saya pun sering meluangkan waktu saya jika di Indonesia dengan membatik. Bapak-bapak dalam rombongan ‘bergotong royong’ dalam membuat batik cap, sedangkan saya berserta Ibu Sundari, Ibu Ani, dan Mbak Syita membatik tulis.


Oh ya, saya perkenalkan dengan Bapak Goura, beliau adalah sosok pelaku dan pemerhati kebudayaan Indonesia asal Melbourne, Australia. Kehebatan belaiu akan kebudayaan Indonesia sudah diakui dimana-mana. Mendalang dan mocopatan menjadi keahliannya, Pengakuan Wayang, Batik, Angklung, Keris, dan Tari Saman dari UNESCO juga berhasil atas campur tangan beliau. Sosok yang tinggi, namun tetap bersahaja, vegetarian, dan yang terpenting njawani sangat terlihat sekali. 


Pada kesempatan kali ini beliau berhasil membuat kebanyakan masyarakat Indonesia malu dengan kebisaan beliau akan menembangkan Macapat. Beliau melakukannya pada saat sarasehan di malam sebelum acara peresmian. Kebetulan macapat kali ini ditembangkan untuk menasehati bapak saya hehehe. Pada malam sarasehan juga saya melihat seorang ibu bersedia menembang sebuah macapat yang biasanya syairnya dilantunkan ketika penjamasan sebuah pusaka. Mendadak ruangan tersebut begitu sunyi ketika tembang itu diperdengarkan. Isi dari tembang tersebut mengandung makna dari keadiluhungan tosan aji. 


Hari Sabtu, 14 Januari 2012 adalah hari peresmian dari Graha Tosan Aji Kota Pekalongan, serta pengukuhan paguyuban pecinta tosan aji di Kabupaten Pekalongan yang bernama Kendali Rangah, yang berarti pengendalian terhadap hawa nafsu jahat. Bapak Walikota rawuh sekaligus meresmikan Graha Tosan Aji Kota Pekalongan. Acara tersebut dimeriahkan oleh penamipilan dari beberapa grup keroncong, penampilan dari Ibu Sundari Sukotjo sendiri, Tari Keris, dan Drama fragmen kehidupan Mpu Suratman Ketip. Puncak acara adalah pembukaan Graha Tosan Aji Kota Pekalongan oleh Bapak Wali Kota Pekalongan. Gedung sederhana di lantai 2 menjadi wadah resmi dari para pecinta tosan aji. Sering Bapak Wali Kota mengingatkan agar terus untuk melestarikan kebudayaan bangsa ini, khususnya dalam kesempatan ini adalah keris. Dengan terbelahnya rangkaian bunga melati di depan regol masuk Graha Tosan Aji, maka berakhirlah sudah acara tersebut, disamping itu, diperlihatkan juga kepada para pengunjung bagaimana cara mewarangi keris dan membuat warangkanya. Dengan demikian diharapkan pula banyak generasi muda di kota pekalongan (khususnya) lebih tertarik untuk mengenal lebih dekat dengan keris.

11.27.2011

INDONESISCHER KULTURABEND 2011 KARLSRUHE

kommt und endeckt...!

INDONESISCHER KULTURABEND 2011 KARLSRUHE
bei PPI Karlsruhe, Deutschland
Samstag, den 3.12.2011
ab 18.oo Uhr

am : Studentenhaus Festsaal
Adenauerring Straße 76131
Karlsruhe, Baden-Württemberg
Deutschland

Gamelan... Tradittionelle Tänze und Lieder... Gastronomie der Indonesiern...

Special Performance by Albiruni Raushanfikri:

KLANARAJA-TANZ
und
SAMAN-TANZ (als Sheikh)

5.23.2011

CIREBON… I’m Melting! (PART II)

CIREBON… I’m Melting!

*ilfil juga sih*

(PART II)

Selanjutnya, ada lagi yang patut di coba yaitu makan nasi jamblang (bahasa kerennya abg Cirebon: nge-jam alias ngejamblang -----> *e buset*) nah kami diajang Kang Johan buat makan di salah satu kedai nasi jamblang yang ramenya bukan main, jangan harap ada meja disana, yang ada Cuma bangku ditata sedemikian rupa, persis seperti susunan bangku antri bayar listrik. Cara pembayaran disana adalah bermodalkan jujur ketika ngaku di kasir.

Kemudian ada lagi tempat nasi jamblang yang enak, yaitu Nasi Jamblang Dermaga, letaknya persis di dermaga pelabuhan Cirebon, kalau ini saya akui lebih enak rasanya (harganya juga hehehe) hemmm sayur cumi setinta-tintanya… astaga… enak buanget…! Gigi orang aja bisa sama bulugnya.

Sepertinya tentang nasi jamblang, begitu juga dengan empal gentong. Empal gentong petama dan terenak yang saya coba adalah di pinggir jalan ke Goa Sunyaragi, depan sebuah SD di selatan kota Cirebon. Bumbunya yang kuat ditambah dengan perasan jeruk nipis membuat empal gentong memiliki rasa juicy yang khas.

Kerupuk melarat, siapa yang ga tau dengan kerupuk yang diolah hanya menggunakan pasir, tanpa minyak. Maka itulah kerupuk itu disebut kerupuk melarat. Hehehe.

Selanjutnya sore ketika saya harus berpisah dari Cosmomen 2010, saya melajutkan untuk pergi berziarah ke makam Sunan Gunungjati. Lokasinya tidak begitu jauh dari kota Cirebon, begitu sampai saya terkejut dengan perilaku para peminta-minta dan warga yang mengaku sebagai ‘pengurus’ makam yang terkesan kasar dan memaksa dalam meminta sumbangan.

Namun untungnya ketika saya hendak masuk, ternyata ada rombongan peziarah dari daerah jawa tengah yang hendak masuk, maka saya ikut menyelinap diantara rombongan tersebut. Jadi, tidak terlalu pusing dalam menangani keributan orang-orang yang mengaku dari mulai menjadi tukang kebersihan sampai tukang ledeng kali ya.

Sesampainya saya di pintu pasujudan disana ada rombongan yang memulai tahlil, irama-irama sholawat dan doa yang tidak asing ditelinga saya, berkumandang dengan semangat, para pemimpin peziarah sering menjelaskan kepada rombongannya, agar tidak meminta sesuatu kepada sang Sunan, tapi beliau kita minta sebagai wasilah atau perantara agar mau memintakan hajat kepada Allah swt. Juga berterimakasih kepada sang Sunan, karena perjuangan beliaulah islam dapat sampai di bumi nusantara ini.

Tidak lama di tengah rombongan di depan saya bertahlil, datang rombongan lainnya dengan nada sholawat, tahlil yang berbeda, sama semangatnya. Akhir gemuruh kumandang doa dalam area pemakaman tersebut menjadi bergelora.

Hal itu mengingatkan saya, ketika di Kairo dulu, dimana ketika berziarah banyak tarekat-tarekat sufi dengan gaya dan zikirnya berbeda namun isi dan tujuannya sama berkumandang di area Sayidah Zaenab. Pengalaman yang menarik bagi saya melihat fenomena itu. Namun, tidak ada satu pun yang ricuh.

Ada bengunan serupa seperti bangunan pusaranya Sunan Gunungjati. Tepat disebelah kirinya, tapi yang mencolok adalah dominasi warna merah, saya langsung tebak ini adalah bangunan pusara istri sang Sunan yang berdarah Tiong Hoa, tidak heran kalau di depannya ada tempat meletakan hio dan pembakar kertas doa seperti di klenteng.

Perbedaan yang timpang disaat makam sang Sunan penuh sesak jamaah, di makam istri beliau keheningan meliputi bangunan ini, bagi saya tidak ada kesan angker.

Begitu keluar dari area makam, tiba-tiba ada seorang yang menghampiri saya sambil membawa keranjang seperti keranjang pencuci sayur tepatnya), yang pastinya untuk meminta, dia mengucapkan,”saya belum…”

waaa… capek deh!!!*

*: mau pulang pake apa gue?!, orang travel buat balik ke jogja aja belum kebayar.

4.28.2011

DARI SUNYARAGI BISA KE MEKAH


Itu kata penduduk yang menjaga Sunyaragi(deng… saya lupa menanyakan arti sunya ragi, cari di internet aja ya pembaca-PR amat yah?!), ya kalau fungsinya untuk tempat orang bermeditasi juga menyendiri. Kalau istilah jawanya; semedi, kalau dalam istilah Islam; tafakkur, dzikir, atau khalwat. Juga ada tempat penempaan senjata, juga rekreasi keluarga Sultan.
Awal saya kemari tidak lain adalah rangkaian acara rekreasi keluarga Cosmomen 2010 sekaligus acara pemotretan, kerenannya photoshoot. Dengan saktinya rekan saya, Bang Johan mendapat ijin untuk melakukan pemotretan disini dengan diberikan surat keputusan langsung dari Sultan Kasepuhan Cirebon untuk mengijinkan kami melakukan pemotretan di tempat tersebut. Lengkap dibubuhi segel kerajaan.
Sunyaragi yang saat ini menjadi milik Keraton Kasepuhan Cirebon itu, memiliki banyak gua. Saya langsung saja ceritakan beberapa gua yang memiliki niliai historis sampai ke mistis ya. Bisa dibilang, memang walau letaknya di daerah kawasan padat penduduk, tapi kesan wingitnya masih terasa.
Gua Pawon, secara bahasa artinya Gua Dapur. Nah dikasih nama seperti itu bukan berarti para abdi dalem masak disitu. Tapi Gua Pawon difungsikan sebagai tempat pengiriman makanan beserta lauk-pauk(kalau saya boleh bilang sekarang mungkin sesajen) ke pemakaman Sunan Gunungjati. Canggih juga ya teknologi jaman dulu, nama ajiannya saya lupa, apalagi mantranya. Jadi teknologinya sudah setara dengan film-film Starwars, orang dengan mudahnya mengirim barang dengan seeanaknya.
Ada cerita yang begitu menggugah nurani di Gua Pawon, yaitu pada suatu hari di bulan Ramadhan ada sepasang kekasih yang melakukan hubungan suami-istri disana. Alhasil, mereka kena dempet alias (sorry) ’belakang’ sama ‘depan’ ga bisa lepas-lepas. Akhirnya mereka diarak menuju kantor kelurahan oleh warga, kemudian dipisahkan oleh ‘orang pintar’.
Tidak tahu juga alasan mereka sampai mau melakukan hubungan suami istri di tempat se’horor’ itu. Pengen dikata biar eksotis… tepok jidat.
***

CIREBON… I’m Melting!


Perjalanan saya kali ini tidak seorang diri, tapi ditemani oleh teman-teman finalis Cosmomen 2010 yang seklaigus juga momen reunion dan pemotretan. Jadi ada pengalaman yang beda ketika saya backpacking sendirian. Mulai dari konvoi dengan empat mobil Jakarta-Cirebon, misleg gara-gara mobil yang ditumpangi beda dengan yang dijanjikan, sampai ledakan bom di Kalpolres Cirebon.
Sementara di Cirebon heboh dengan goyangan bomnya. Kami baru sampai di Cikampek, tepatnya rumah makan Cahaya Paris. Entah mengapa si owner memberi nama seperti itu. Kebetulan Mbak Fira Basuki sempat menulis novel yang berjudul Paris Pandora. Kebetulan? Maybe...
Jalan Panembahan, Trusmi menjadi tujuan kami disana. Trusmi, apa sih yang tidak terkenal selain batiknya, dan Cirebon khas dengan motif Mega Mendung yang berwarna cerah, yang menjadi ciri khas batik-batik produksi daerah pesisir utara Pulau Jawa.
Beruntungnya kami karena salah seorang finalis Cosmomen berasal dari Cirebon, men’s thingnya: membatik. Kang Johan sang juragan batik namanya, memiliki label Rajjas Batik, langsung menyambut kami di kediamannya. Shock! Disana seperti orang mau ngadain acara tunangan; kursinya diatur rapih, prasmanan dijejer, dan ada tukang tahu gejrot seabangnya.
Tambah lagi kuliah singkat pembuatan batik langsung di pabriknya. Selama saya belajar batik, baru sekarang saya melihat wajan buat canting diganti wajan buat cap. Terus posisinya teratur, biasanya kalau di Jogja pakai wajan canting, event para mbak-mbak pembatik duduknya mengitari si wajan dan kompor, suka ga teratur. Tapi disini beda, karena si wajan gede kaya buat goreng martabak, makanya mereka bisa duduk teratur kalau diliat dari atas kaya bunga.
Terus acara ramah tamah dengan keluarga Kang Johan. Susah ya punya nafsu makan tinggi juga doyan kuliner. Bayangkan! Dari ujung ke ujung makanaaannn semua, saya jabarin: aqua gelas, buah-buah segar (apelnya saya plastikin buat di kamar pas pulang), tape bugkus daun jambu, nasi lengko, es sirup campolay rasa pisang susu yang warnanya pink, terakhir tahu gejrot se pikulan dan abangnya. Oh tadi ada kerupuk kulit alias krecek yang diameternya 10 sentian. (saya yang menulis mendadak laper lagi).
Waktu sudah menunjukan kami harus check in. sebelum pindah masing-masing mendapat hadiah berupa kemeja batik. Thank you Bang Johan. Kalimat doa menjulur keluar dari setiap bibir. Intinya doain biar usahanya tetep lancer. Amin…
Puyi Takoyaki, owner masih sama; Kang Johan. Restoran yang menyajikan menu masakan jepang dan bukan abal-abal. Parah, melihat designnya saya sendiri merasa seperti di bilangan Dyanapura, Bali, , kebetulan butik sebelah juga miliknyaaa… Kang Johan lagi. (salut bener buat Kang Johan).
Sini-sini, saya ceritakan: baby octopusnya disiram saus merah hmmm… lembut begitu di mulut, rumput laut bertabur wijen yang nyesss… di lidah, ochanya dong panas dan segar (yang sering ke restoran jepang pastinya ngerti dong mana ocha yang segar dan yang tidak), shabu-shabunya… alamak… jamur shitakenya…, sandung lamurnya…, mie kedelainya… sampai saya yang sedang menulis,ngiler ingin lagi ke sana. Thank you Kang Johan.
***

KATAMAN

Maka selesailah satu rangkaian dari beberapa untaian yang harus saya gali dan pelajari dari perjalanan seorang Panji, Ada rasa puas tersendiri di diri saya setidaknya saya tidak begitu buta dalam membawakan perawakan tokoh-tokoh dalam setiap tarian saya (tentunya yang berkaiatan dengan cerita Panji dong). Matahari tergelincir sudah. Setia Darma sebentar lagi sudah harus selesai beraktifitas pada pukul empat sore. Saya dan Bratma mohon diri kepada Mas Andang yang menemani kami selama kami berada di area Setia Darma.

Alhamdulillah-nya saya masih diberi kesempatan untuk mampir lagi ke Bali sendiri. Sekedar untuk main-main juga saya sempatkan ke Setia Darma. Suasana yang masih sama seperti ketika dulu saya berkunujung pertama kali. Saya juga diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan Pak Prayit. Namun, untuk kunjungan yang terakhir saya salut uat Mas Andang yang dia menggunakan salah satu pendopo kecil dikomplek itu untuk tempat belajar bagi anak-anak di sekitar Setia Darma.

Akhirnya, mengejar cerita Panji di Bali saya cukupkan, walau masih mungkin banyak yang tersimpan dalam lembaran-lembaran lomtar yang bersemayam pada puri-puri di penjuru Bali.
Sekedar ingin ikut-ikut tradisi para pujangga keraton; kalau nulis karya terus belakangnya dibubuhi tanggal penyelesaian. Karangan ini berakhir pada tanggal;

Senin , 25 April 2011,
Senin, 22 Jumadal Ula 1432 H,
Wage, 22 Jumadil Awal 1944 Be.

4.20.2011

JOKO KEMBANG KUNING (EPISODE IV)

Kediri dengan segala kesejahteraanya yang diturunkan oleh para Hyang yang bermukim di Mahameru. Raja yang dianugrahi puteri cantik bernama Dewi Sekartaji. Memiliki kekasih bernama Panji Asmarabangun dari Jenggala Manik. Namun sayang, Prabu Klana dari Nagarisebrang juga ingin melamarnya. Maka, untuk memelihara cintanya yang murni. Dewi Sekartaji kabur meninggalkan Kaputren.

Kabar hilangnya Dewi Sekartaji tersebar hingga keluar dari tembok kedaton. Seluruh punggawa dan teliksandi kerajaan dikerahkan, begitupun dengan Raden Gunungsari adiknya tidak mau tinggal diam sementara kakaknya menghilang dari kedaton. Lama dicari hingga akhirnya wakil raja, Patih Aryadeksa memutuskan untuk mengadakan sayembara bahwa siapa saja yang mampu menemukan kembali Dewi Sekartaji, apabila ia pria maka akan dinikahkannya, dan apabila perempuan akan diangkat menjadi saudaranya. Berita sayembara tersebar keseluruh nusantara, maka tentunya Raden Panji Asmarabangun juga Prabu Klana ikut serta dalam sayembara itu.

Lalu diceritakan Raden Panji Asmarabangun menyamar sebagai rakyat dengan nama Joko Kembang Kuning, begitupun kedua punakawannya; Jarodheh dan Prasanta. Merka berdiam di kediaman paman Raden Panji, Ki Demang Kuning pemimpin Kademangan Kuning Ditengah perjalanan mereka bertemu Ki Tawang Alun, setelah menceritakan kejadian yang menimpa Raden Panji, maka Ki Tawang Alun beserta pengikutnya bersedia untuk membantunya.

Dilain tempat, Dewi Sekartaji beserta embannya diterima oleh Ki Cona Coni, tumenggung dari Desa Palu Ombo dan mengangkatnya sebagai anak angkatnya untuk membantu penyamarannya. Namun jika Dewata berkehendak, suatu saat dalam rangka pencahariannya Joko Kembang Kuning menjadi pengamen Tembang Kentrung sampailah ia di Katemanggungan Palu Ombo dan tak disengaja bertemu dengan Dewi Sekartaji yang sedang menyamar juga. Akhirnya mereka saling melepas kerinduan.

Maka setelah pertemuan singkat itu, maka Joko Kembang kuning segara mengutus Ki Tawang Alun untuk ke Pangleburan, Keraton Kediri dan memberitahukan Naladerma (adik Raja Kediri) bahwa Dewi Sekartaji sudah diketemukan oleh Joko Kembang Kuning. Namun disaat bersamaan di Keraton ada utusan dari Nagariseberang, Namun disaat yang sama pula, Retna Tegaran adik Prabu Klana yang mebawa mahar untuk meminang Dewi Sekartaji melalui perantara Retna Mindaka. Namun, mahar pernikahan ditolak oleh , karena bukan mahar yang diinginkan, namun diketemukannya Dwi Sekartaji. Akhirnya terjadi pertempuran hebat antara Retna Mindaka dengan Retna Tegaron utusan dari Nagariseberang di Pangleburan.

Di lain tempat Ki Tawang Alun yang sedang dalam perjalanan menuju Kediri akhirnya diketahui maksud kedatangannya oleh utusan pihak Raja Kelana, yakni Patih Kebo Lorodan ketika dalam perkelahian ia melihat Ki Demang Kuning dan Tumenggung Cona Coni bersama Ki Tawang Alun.

Raja Kelana melakukan kelicikan dengan segara menghadap Raja Kediri dana akan mengatakan kalau ia telah menemukan Dewi Sekartaji. Akhirnya terjadilah perang tanding di hadapan Raja Kediri, Raja Kelana melawan Patih Aryadeksa dan Ki Tawang Alun. Keributan itu menyusut menjadi duel antara Ki Tawang Alun, sebagai wakil dari Joko Kembang kuning dengan Patih Kebo Lorodan dari pihak Raja Kelana.

Jauh di Kademangan Kuning, Joko Kembang Kuning mendengar kabar bahwa lamarannya telah diterima, namun di tengah perjalanan ia mendapat laporan kalau terjadi pertempuran antara pihaknya dengan Nagarisebrang. Maka ia bergegas menuju Alun-Alun Kediri untuk membela pendukungnya.

Maka begitu sampai di medan laga, Joko Kembang Kuning segara ikut dalam pertempuran, menggantikan Ki Tawang Alun melawan Patih Kebo Lorodan. Ki Tawang Alun sendiri pun harus mundur dari medan pertempuran dibantu oleh Naladerma karena terluka dalam duelnya dengan Patih Kebo Lorodan dan Ki Tawang Alun harus dirawat oleh Ni Cona Coni.

Dalam pertempuran itu akhirnya Patih Kebo Lorodan harus tewas di tangan Joko Kembang Kuning, dengan disaksiakan para punggawa Kediri, Raja Kediri, Dewi Kilisuci, Patih Arya Deksa, Tumenggung Cona Coni, dan Ki Demung Kuning. Mendengar kejadian itu, marahlah Raja Kelana dan bersumpah akan menyerang Kediri dan merebut Dewi Sekartaji untuk dijadikan istrinya.

Gandarepa sebagai putra dari Raja Kediri memimpin wadyabala Kediri dibantu oleh Joko Kembang Kuning, Naladerma, dan Ki Demang Kuning untuk melawan bala tentara Raja Kelana.

Sementara di Keraton Kediri, Raja Kediri mengutus Senapati Sedahrama dan ke Palu Ombo untuk menyampaikan kepada Tumenggung Cona Coni agar Dewi Sekartaji pulang ke Keraton Kediri. Raja Kediri juga mengirim keris pusaka kepada Ki Tawang Alun sebagai tanda terima kasih karena pengorbanannya dalam pertempuran di alun-alun Kediri.

Suatu malam, masih dalam suasana pertempuran Raja Kelana dirias oleh Retna Tengaron seperti Gandarepa agar mudah masuk ke Kebon Pungkuran untuk menculik Dewi Sekartaji. Namun, Dewi Sekartaji tahu bahwa yang datang bukanlah Gendarepa yang asli, karena dilihat dari sikap dan bau tubuhnya. Maka gagalah penyamaran Raja Kelana untuk menculiknya.

Perang sengit terus berlanjut dengan antara Kediri dan Nagarisebrang. Kediri yang dipimpin oleh Pangeran Gandarepa dan Joko Kembang Kuning, dan Nagarisebrang dipimpin oleh Raja Kelana. Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Namun pada akhirnya, tewaslah Raja Kelana karena kelalimannya dalam pertempuran. Begitu banyak rampasan perang yang didapat mulai dari harta benda, senjata-senjata , kuda-kuda, dan para dayang dan emban kemudian diboyong ke Keraton.

Akhirnya selesailah penyamaran sepasang kekasih tersebut. Pernikahan segera disiapkan. Dewi Kilisuci menjadi dukun pernikahan mereka berdua. Dewi Sekartaji begitu anggun tanpa menggunakan mahkota, melainkan hanya dengan rambut terurai berseling melati-melati merekah di sela rambut hitamnya.

Namun, pada gulungan keempat sayngnya tidak boleh dibuka sesuai dengan pesan dari para pendahulunya. Dalam adegan ini menurut Prof. Dr.Primadi Tabrani (bedasarkan salinan milik Mangkunegara VII) diceritakan tentang pernikahan kedua mempelai, kemudian digambarkan pula Dewi Sekartaji menggendong naga, yang menjadi simol kehamilannya, lalu akhirnya Dewi Sekartaji diboyong ke Jenggala. Mereka pun hidup bahagia.