4.28.2011
DARI SUNYARAGI BISA KE MEKAH
4.05.2011
CERITA PANJI
Namun satu setengah abad sebelum para pujangga keraton menceritakannya dalam syair-syair. Cerita Panji bisa dikatakan sebagai cerita roman sekelas Romeo and Julietnya Shakespeare. Dimana mengambil latar waktu pada masa kerajaan Jenggala Manik dan Kediri berdiri. Musuh utamanya tentunya para raja-raja di tanah seberang yang sering diberi julukan depan Klana.
Kerennya tentang cerita Panji ini adalah, sempat booming pada masa Majapahit menguasai nusantara. Jadi jangan heran kalau adayang membaca cerita Panji, diketemukan lakon atau latar di negara-negara Indochina bahkan sampai Filipina dan India, karena menurut liteatur yang pernah saya baca bahwa cerita itu juga sekaligus alat pemersatu nusantara pada jaman majapahit.
Untuk di Thailand sendiri cerita ini bernama Inao, alias Inu Kertapati yang hidup pada masa setelah dipecahnya kerajaan Kahuripan, yaitu Jenggala dan Kediri. Sama juga di daerah Kalimantan, Makasar, dan Bali mereka punya penyebutan sendiri-sendiri, tapi berkiblat pada cerita-cerita panji asal masa Kediri-Jenggala. Makanya di Bali ada tarian Panji Semirang. Ada yang mengatakan kalau Panji itu tidak hanya satu orang. Namun yang lainnya mengatakan satu orang.
Inilah salah satu kekayaan nusantara. Roman tentang Panji menjadi cerita rakyat diseluruh nusantara pada jamannya. Jadi seain kisah-kisah dari epos Mahabarata dan Ramayana, nusantara memiliki satu kisah original yaitu, Panji. Kemudian bukti kalau cerita panji menyebar di seluruh daratan Jawa dan Bali. Seperti yang saya katakan di atas, kita melihat Tari Topeng Cirebon, Indramayu, Yogyakarta, Solo, sampai Malang, lanjut ke Bali, semua bersumber pada cerita Panji. Dari mulai berbentuk wayang beber, hingga klithik. Wahhh… Tentunya nusantara sangat kaya sekali akan potensi budaya yang ada, hanya tinggal kita yang masih ingin melestarikan atau tidak. Cheers!
3.21.2011
Tiga Toko Batik Pilihan
Tiga Toko Batik Pilihan
banyankalpataru.blogspot.com
1. Batik Terang Bulan
Alamat: Jalan Jendral A. Yani 108 (d/h 76) Selatan Kepatihan
Toko batik yang satu ini sudah berdiri di Jogja sejak tahun 1942. Memiliki banyak sekali produk batik yang dapat dibilang cukup konvensional. Penulis memilih Terang Bulan sebagai salah satu dari ketika toko batik yang mampu bertahan hingga saat ini.
2. Batik Mataram
Alamat: Jalan Malioboro (Seberang Mall Malioboro)
Jl. Suryadiningratan No. 20
Toko batik ini menjadi pilihan penulis, karena tempatnya yang nyaman di tengah hiruk-pikuk Malioboro, kualitas batik yang dapat dipertanggungjawabkan, design yang baik, elegan, dan terbatas sehingga sangat meminimalkan ada kesamaan dengan pengguna lainnya.
3. Dagang Batik Ny. Hj. Soegeng
Alamat: Pasar Bringharjo Sayap Utara Los I
Los yang satu ini, penulis jadikan pilihan dari sekian banyak pedagang batik di Pasar Bringharjo karena masih tetap menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan seniman konservatif. Jadi, ketika membutuhkan motif parang gendreh garudo, parang barong garudo, atau kain-kain yang digunakan untuk bermacam rangakaian upacara tradisional masih dapat kita temui disini. Maka tidak ada salahnya kalau penulis memilihnya sebagai salah satu dari ketiga pilihan batik tersebut.
2.23.2011
Secuil tentang LANGENDRIYAN dan LANGEN MANDRA WANARAN
Langendriyan yang menceritakan tentang cerita Panji dan Langen Mandra Wanaran atau Langen Wandra Wanaran yang mengambil cerita dari epos Ramayana, keduanya ditarikan dengan cara yang sangat unik. Ciri khasnya yang paling umum adalah cara menarikan dengan sikap njengkeng, juga setiap lakon saling bercakap dengan cara menembang.Tentang kedua jenis tarian ini, Romo Hartanto bercerita begini, “Langendriyan dan Langenwandrawanaran itu mengambil cerita dari kisah Panji dan cerita Ramayana. Wanaran itu berarti monyet, yang identik dengan Hanoman. Keduanya ditarikan dengan cara njengkeng (sikap setengah berdiri-lebih rendah dibandingkan mendak).”.
“Namun perbedaan akan keduanya dapt dilihat dari bentuknya ketika dalam posisi njengkeng. Kalau Langenwandrawanaran, lutut boleh menyentuh lantai, sedangkan Langendriyan itu sangat dilarang lutut menyentuh lantai. Keduanya ditarikan dengan cara menembang” Romo Hartanto melanjutkan.
Menurut Romo Hartanto juga, Kedua tarian ini diciptakan di Bangsal Kepatihan (sekarang menjadi kantor gubernur). Ketika itu Patih Danureja juga menaruh perhatian pada seni, maka beliau menciptakan kedua tarian tersebut. Pada awalnya kesenian ini bukan dalam bentuk tarian. Jadi, sekelompok orang di pendopo membaca dengan menembangkan serat-serat, dengan format seperti orang bergiliran melakukan kegiatan Sema’an Quran. Namun, dengan seiringnya berjalannya waktu, mereka mencoba melakukannya dengan tarian. Dengan dalih untuk menjaga kewibawaan Sri Sultan Hamengku Buwana yang bersinggasana di Siti Hinggil Keraton Yogyakarta, maka kedua semua tarian itu ditarikan dengan posisi njengkeng.
“Kecuali ketika ada adegan terbang, ya berdiri” Romo Hartanto menjelaskan sambil mencontohkan cara terbangnya dalam posisi nyamber.
Sedangkan menurut Mas Agung Tatok, ia bercerita kalau tarian itu awal mulanya diciptakan di Ndalem Kaneman. Jaman dahulu, karena selama bulan Ramadhan ada aturan bahwa semua kegiatan seni dihentikan dalam lingkungan Njeron Benteng. Namun seniman-seniman setempat (mungkin, karena sudah menjadi hobi dan mengisi waktu luang-membunuh sepi) mengakalinya dengan membuatnya semua tarian dimainkan dengan posisi njengkeng agar tidak bermaksud melawan parentah ndalem (peraturan dari Sultan). Juga berdialog dengan menembang.
Awal mulanya terjadinya kedua wayang ini sama seperti apa yang dikemukakan Romo Hartanto diatas. Awalnya hanya sekelompok orang yang jenuh menembangkan serat-serat¬ maka mereka variasikan dengan gerakan tari.
Tapi menurut Mas Alin (Putra dari Romo Sasminta Mardawa) menjelaskan ketika saya selesai berlatih tari, bahwa Langendriyan itu cendrung dikembangkan oleh Solo, sedangkan khasnya dari Jogja itu Langenwandrawanaran. Keduanya dilakukan dengan posisi njengkeng dan menembang. Memang seperti beberapa Serat Langendriyan yang Mbak Fira Basuki pinjamkan kepada saya kebanyakan ceritanya bersumber dari daerah Solo.
1.20.2011
KEMBANG KEMPIS NAFAS JOGED MATARAM
Ndalem Kaneman yang diceritakan oleh Mbah Putri pernah mendiami komplek tersebut sebagai kos selama beliau mengenyam pendidikannya di Jogja, adalah kediaman dari kerabat Sultan Hamengku Buwana, yang sekarang didalamnya didiami oleh beberapa kepala keluarga. Pendopo utama yang memiliki enam soko guru pohon jati terlihat begitu sederhana, dibawahnya beraktifitas perguruan tari Siswa Among Beksa.
Saya kaget ketika mendengar bahwa biaya spp Rp 15.000,00 per bulan, makalah bagi saya tidaklah mahal apabila harga untuk privat setiap satu kali pertemuan (2 jam), ditanggung dengan biaya Rp 50.000,00 saja. Bagi yang menganggap itu terlalu mahal, ya terserah. Tapi yang menjadi kendala akan kemunduruan akan tari tradisional salah satunya adalah factor ekonomi. Berbeda dengan jaman dahulu bagi mereka yang dapat menari maka akan dijadikan pegawai tetap dalam tatanan keraton.
Tapi saya menaruh rasa hormat dan kagum terhadap Mas Roso, seorang designer muda, yang masih mau belajar tari di Pujokusuman. Kemudian ketika dirasa ia cukup dapat mementaskannya, kemudian ia mengadakan ‘syukuran’ dengan mentraktir tamu pada ‘wisuda’nya bakso soto, dan jajanan pasar.
Bukan hanya itu saja, karena kebetulan itu adalah rangkaian acara ‘kumpul kangen’ beberapa orang yang pernah mendapat gemblengan di Pujokusuman. Maka tak ketinggalan Mas Gareth Kim, penari asal Jepang yang sekarang berdomisili di Bali, ikut menyuguhkan tarian kreasinya tanpa meninggalkan semua pakem ikut menyuguhkan tarian kreasinya tanpa meninggalkan pakem Gaya Jogja. Serta, tiga wanita cantik asal Jepang yang sekarang menjalani tahap pendidikannya di ISI Solo menarikan Golek Ayun-Ayun. Mereka bagi saya mungkin bisa dikatakan parasnya setaraf dengan (maaf) Miyabi, atau lebih tinggi.
Miris memang, ketika harus melihat kenyataan bahwa antusiasme akan budaya pribumi (kebanyakan) dimiliki oleh pendatang. Sudah banyak ‘omongan’ tentang bangsa ini (baca:Indonesia) yang sedang ‘menutup mata’ akan kemunduran budayanya sendiri. Dimana wacana perbandingan dengan negara lain sudah tidak mempan mungkin bagi bangsa yang ‘bebal’ akan sindiran-sindiran seperti itu.
Besar harapan saya, bagi yang telah membaca tulisan ini tersentuh untuk membantu para pelaku joged mataram. Baik badan, yayasan, atau langsung ke perorangan. Apapun yang pembaca lakukan pasti sangat bermanfaat, khususnya dalam pelestarian budaya. “hahhh… andai suatu hari nanti di setiap sudut Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat manusianya mampu melakukan Joged Mataram… Alangkah indahnya negeri itu”.

