Showing posts with label My Journeys. Show all posts
Showing posts with label My Journeys. Show all posts

2.16.2012

Antara Pekalongan dengan Keris

Ini adalah perjalanan kedua kali saya ke kota Pekalongan. Kali ini saya menemani Bapak dalam acara peresmian Graha Tosan Aji Kota Pekalongan, karena saat ini Bapak adalah sekjen dari Sekretariat Perkerisan Nasional Indonesia (SNKI). SNKI itu sendiri menjadi wadah dan forum komunikasi masyarakat perkerisan di Indonesia yang ditangguhkan pada 24 Maret 2006 sebagai respon dari masyarakat perkerisan nusantara atas dikukuhkannya keris sebagai cagar budaya tak benda dari UNESCO. Saya beserta rombongan yang terdiri dari ketua SNKI yaitu Bapak Herman Sumarno (beliau sempat menjadi mentri SDM pada masa pemerintahan SBY jilid satu), penyanyi keroncong kondang Ibu Sundari Sukotjo yang beliu sekaligus menjadi public relation dari SNKI (belau tetap masih cantik), Mas Birul (wartawan majalah Keris), dan beberapa staff lainnya, jadi kami serombongan berjumlah 10 Orang. 


Kereta Argo Muria berangkat dari Stasiun Gambir pada jam setengah delapan, yang kemudian tiba di Pekalongan pada jam setengah satu siang, everything was ontime. Di Pekalongan kami menginap di wisma dinas milik pemerintah kota Pekalongan. Wisma tersebut mungkin untuk lingkup kota Pekalongan sudah termasuk rumah mewah sih. Jadwal pertama adalah kunjungan ke Museum Batik Pekalongan, di dalamnya mungkin hampir dapat saya katakan sama saja dengan museum batik yang ada di kota Solo. Dipandu langsung dari pihak museum, kita diajak berkeliling untuk lebih mengenal Batik Pekalongan yang menjadi salah satu jagoan dari pada golongan corak batik pesisiran. 




Tampak Depan Museum Batik Pekalongan

Ciri khas yang dapat simpulkan dari Batik Pekalongan dari sudut pandang saya adalah warnanya yang ‘kuat’ dan berani, seolah si pemakai siap untuk menjadi pusat perhatian dari khalayak. Jikalau warnanya tersebut terbuat dari pewarna alam, maka kesan vintage akan terlihat. Saya juga melihat kalau Batik Pekalongan sangat pas dengan kebaya encim. Hal itu terlihat dari contoh manekin yang terpajang di dalam museum. Dapat saya bayangkan bagaimana cantiknya gadis-gadis pekalongan dulu disaat mereka berlenggang menuju pasar menggunakan payung berbahan kertas, berlukis bunga warna-warni atau burung phoenix. Kulit-kulit mereka yang coklat melenggam karena terbakar matahri pesisir pantai, namun manis. Menjadikan kesan sangat ayu, lincah, dan memiliki eksotika tersendiri dalam benak saya. Ya… kemerdekaan jiwa wanita tergambar jelas melalui Batik Pekalongan. 


Disana kami diajak untuk melihat bagaimana proses pembuatan batik. Bukan cerita yang baru bagi saya untuk ini, karena saya pun sering meluangkan waktu saya jika di Indonesia dengan membatik. Bapak-bapak dalam rombongan ‘bergotong royong’ dalam membuat batik cap, sedangkan saya berserta Ibu Sundari, Ibu Ani, dan Mbak Syita membatik tulis.


Oh ya, saya perkenalkan dengan Bapak Goura, beliau adalah sosok pelaku dan pemerhati kebudayaan Indonesia asal Melbourne, Australia. Kehebatan belaiu akan kebudayaan Indonesia sudah diakui dimana-mana. Mendalang dan mocopatan menjadi keahliannya, Pengakuan Wayang, Batik, Angklung, Keris, dan Tari Saman dari UNESCO juga berhasil atas campur tangan beliau. Sosok yang tinggi, namun tetap bersahaja, vegetarian, dan yang terpenting njawani sangat terlihat sekali. 


Pada kesempatan kali ini beliau berhasil membuat kebanyakan masyarakat Indonesia malu dengan kebisaan beliau akan menembangkan Macapat. Beliau melakukannya pada saat sarasehan di malam sebelum acara peresmian. Kebetulan macapat kali ini ditembangkan untuk menasehati bapak saya hehehe. Pada malam sarasehan juga saya melihat seorang ibu bersedia menembang sebuah macapat yang biasanya syairnya dilantunkan ketika penjamasan sebuah pusaka. Mendadak ruangan tersebut begitu sunyi ketika tembang itu diperdengarkan. Isi dari tembang tersebut mengandung makna dari keadiluhungan tosan aji. 


Hari Sabtu, 14 Januari 2012 adalah hari peresmian dari Graha Tosan Aji Kota Pekalongan, serta pengukuhan paguyuban pecinta tosan aji di Kabupaten Pekalongan yang bernama Kendali Rangah, yang berarti pengendalian terhadap hawa nafsu jahat. Bapak Walikota rawuh sekaligus meresmikan Graha Tosan Aji Kota Pekalongan. Acara tersebut dimeriahkan oleh penamipilan dari beberapa grup keroncong, penampilan dari Ibu Sundari Sukotjo sendiri, Tari Keris, dan Drama fragmen kehidupan Mpu Suratman Ketip. Puncak acara adalah pembukaan Graha Tosan Aji Kota Pekalongan oleh Bapak Wali Kota Pekalongan. Gedung sederhana di lantai 2 menjadi wadah resmi dari para pecinta tosan aji. Sering Bapak Wali Kota mengingatkan agar terus untuk melestarikan kebudayaan bangsa ini, khususnya dalam kesempatan ini adalah keris. Dengan terbelahnya rangkaian bunga melati di depan regol masuk Graha Tosan Aji, maka berakhirlah sudah acara tersebut, disamping itu, diperlihatkan juga kepada para pengunjung bagaimana cara mewarangi keris dan membuat warangkanya. Dengan demikian diharapkan pula banyak generasi muda di kota pekalongan (khususnya) lebih tertarik untuk mengenal lebih dekat dengan keris.

5.23.2011

CIREBON… I’m Melting! (PART II)

CIREBON… I’m Melting!

*ilfil juga sih*

(PART II)

Selanjutnya, ada lagi yang patut di coba yaitu makan nasi jamblang (bahasa kerennya abg Cirebon: nge-jam alias ngejamblang -----> *e buset*) nah kami diajang Kang Johan buat makan di salah satu kedai nasi jamblang yang ramenya bukan main, jangan harap ada meja disana, yang ada Cuma bangku ditata sedemikian rupa, persis seperti susunan bangku antri bayar listrik. Cara pembayaran disana adalah bermodalkan jujur ketika ngaku di kasir.

Kemudian ada lagi tempat nasi jamblang yang enak, yaitu Nasi Jamblang Dermaga, letaknya persis di dermaga pelabuhan Cirebon, kalau ini saya akui lebih enak rasanya (harganya juga hehehe) hemmm sayur cumi setinta-tintanya… astaga… enak buanget…! Gigi orang aja bisa sama bulugnya.

Sepertinya tentang nasi jamblang, begitu juga dengan empal gentong. Empal gentong petama dan terenak yang saya coba adalah di pinggir jalan ke Goa Sunyaragi, depan sebuah SD di selatan kota Cirebon. Bumbunya yang kuat ditambah dengan perasan jeruk nipis membuat empal gentong memiliki rasa juicy yang khas.

Kerupuk melarat, siapa yang ga tau dengan kerupuk yang diolah hanya menggunakan pasir, tanpa minyak. Maka itulah kerupuk itu disebut kerupuk melarat. Hehehe.

Selanjutnya sore ketika saya harus berpisah dari Cosmomen 2010, saya melajutkan untuk pergi berziarah ke makam Sunan Gunungjati. Lokasinya tidak begitu jauh dari kota Cirebon, begitu sampai saya terkejut dengan perilaku para peminta-minta dan warga yang mengaku sebagai ‘pengurus’ makam yang terkesan kasar dan memaksa dalam meminta sumbangan.

Namun untungnya ketika saya hendak masuk, ternyata ada rombongan peziarah dari daerah jawa tengah yang hendak masuk, maka saya ikut menyelinap diantara rombongan tersebut. Jadi, tidak terlalu pusing dalam menangani keributan orang-orang yang mengaku dari mulai menjadi tukang kebersihan sampai tukang ledeng kali ya.

Sesampainya saya di pintu pasujudan disana ada rombongan yang memulai tahlil, irama-irama sholawat dan doa yang tidak asing ditelinga saya, berkumandang dengan semangat, para pemimpin peziarah sering menjelaskan kepada rombongannya, agar tidak meminta sesuatu kepada sang Sunan, tapi beliau kita minta sebagai wasilah atau perantara agar mau memintakan hajat kepada Allah swt. Juga berterimakasih kepada sang Sunan, karena perjuangan beliaulah islam dapat sampai di bumi nusantara ini.

Tidak lama di tengah rombongan di depan saya bertahlil, datang rombongan lainnya dengan nada sholawat, tahlil yang berbeda, sama semangatnya. Akhir gemuruh kumandang doa dalam area pemakaman tersebut menjadi bergelora.

Hal itu mengingatkan saya, ketika di Kairo dulu, dimana ketika berziarah banyak tarekat-tarekat sufi dengan gaya dan zikirnya berbeda namun isi dan tujuannya sama berkumandang di area Sayidah Zaenab. Pengalaman yang menarik bagi saya melihat fenomena itu. Namun, tidak ada satu pun yang ricuh.

Ada bengunan serupa seperti bangunan pusaranya Sunan Gunungjati. Tepat disebelah kirinya, tapi yang mencolok adalah dominasi warna merah, saya langsung tebak ini adalah bangunan pusara istri sang Sunan yang berdarah Tiong Hoa, tidak heran kalau di depannya ada tempat meletakan hio dan pembakar kertas doa seperti di klenteng.

Perbedaan yang timpang disaat makam sang Sunan penuh sesak jamaah, di makam istri beliau keheningan meliputi bangunan ini, bagi saya tidak ada kesan angker.

Begitu keluar dari area makam, tiba-tiba ada seorang yang menghampiri saya sambil membawa keranjang seperti keranjang pencuci sayur tepatnya), yang pastinya untuk meminta, dia mengucapkan,”saya belum…”

waaa… capek deh!!!*

*: mau pulang pake apa gue?!, orang travel buat balik ke jogja aja belum kebayar.

4.28.2011

CIREBON… I’m Melting!


Perjalanan saya kali ini tidak seorang diri, tapi ditemani oleh teman-teman finalis Cosmomen 2010 yang seklaigus juga momen reunion dan pemotretan. Jadi ada pengalaman yang beda ketika saya backpacking sendirian. Mulai dari konvoi dengan empat mobil Jakarta-Cirebon, misleg gara-gara mobil yang ditumpangi beda dengan yang dijanjikan, sampai ledakan bom di Kalpolres Cirebon.
Sementara di Cirebon heboh dengan goyangan bomnya. Kami baru sampai di Cikampek, tepatnya rumah makan Cahaya Paris. Entah mengapa si owner memberi nama seperti itu. Kebetulan Mbak Fira Basuki sempat menulis novel yang berjudul Paris Pandora. Kebetulan? Maybe...
Jalan Panembahan, Trusmi menjadi tujuan kami disana. Trusmi, apa sih yang tidak terkenal selain batiknya, dan Cirebon khas dengan motif Mega Mendung yang berwarna cerah, yang menjadi ciri khas batik-batik produksi daerah pesisir utara Pulau Jawa.
Beruntungnya kami karena salah seorang finalis Cosmomen berasal dari Cirebon, men’s thingnya: membatik. Kang Johan sang juragan batik namanya, memiliki label Rajjas Batik, langsung menyambut kami di kediamannya. Shock! Disana seperti orang mau ngadain acara tunangan; kursinya diatur rapih, prasmanan dijejer, dan ada tukang tahu gejrot seabangnya.
Tambah lagi kuliah singkat pembuatan batik langsung di pabriknya. Selama saya belajar batik, baru sekarang saya melihat wajan buat canting diganti wajan buat cap. Terus posisinya teratur, biasanya kalau di Jogja pakai wajan canting, event para mbak-mbak pembatik duduknya mengitari si wajan dan kompor, suka ga teratur. Tapi disini beda, karena si wajan gede kaya buat goreng martabak, makanya mereka bisa duduk teratur kalau diliat dari atas kaya bunga.
Terus acara ramah tamah dengan keluarga Kang Johan. Susah ya punya nafsu makan tinggi juga doyan kuliner. Bayangkan! Dari ujung ke ujung makanaaannn semua, saya jabarin: aqua gelas, buah-buah segar (apelnya saya plastikin buat di kamar pas pulang), tape bugkus daun jambu, nasi lengko, es sirup campolay rasa pisang susu yang warnanya pink, terakhir tahu gejrot se pikulan dan abangnya. Oh tadi ada kerupuk kulit alias krecek yang diameternya 10 sentian. (saya yang menulis mendadak laper lagi).
Waktu sudah menunjukan kami harus check in. sebelum pindah masing-masing mendapat hadiah berupa kemeja batik. Thank you Bang Johan. Kalimat doa menjulur keluar dari setiap bibir. Intinya doain biar usahanya tetep lancer. Amin…
Puyi Takoyaki, owner masih sama; Kang Johan. Restoran yang menyajikan menu masakan jepang dan bukan abal-abal. Parah, melihat designnya saya sendiri merasa seperti di bilangan Dyanapura, Bali, , kebetulan butik sebelah juga miliknyaaa… Kang Johan lagi. (salut bener buat Kang Johan).
Sini-sini, saya ceritakan: baby octopusnya disiram saus merah hmmm… lembut begitu di mulut, rumput laut bertabur wijen yang nyesss… di lidah, ochanya dong panas dan segar (yang sering ke restoran jepang pastinya ngerti dong mana ocha yang segar dan yang tidak), shabu-shabunya… alamak… jamur shitakenya…, sandung lamurnya…, mie kedelainya… sampai saya yang sedang menulis,ngiler ingin lagi ke sana. Thank you Kang Johan.
***

4.01.2011

GUNUNGSARI, Pangeran Pesolek Asli Kediri

Jangan kira Gunungsari adalah nama tempat atau makanan tradisional seperti jajanan pasar. Tapi ini adalah tokoh dalam cerita Panji. Ia adalah seorang pangeran dari kerajaan KediriDewi Ragil Kuning, dan ia adik dari Dewi Sekartaji.
(tentunya masih pada ingat semua tentang bab kerajaan Hindu-Budha di Nusantara ketika masih di sekolah dulu dong). Memiliki pasangan bernama


Minggu, 27 Maret 2011 yang lalu kebetulan saya diberi kesempatan untuk menjalankan amat menari di Bangsal Sri Manganti Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian tarian yang akansaya tarikan adalah Klana Topeng Alus Gunungsari. Sebuah tanggung jawab besar dan kehormatan jika dapat menari di dalam tembok keraton. Sebagai seorang yang masih dibilang awam tentang tarian, tentunya saya agak sedikit deg-degan. Apalagi saya baru resmi merampugkan pelajaran saya sebulan yang lalu. Itupun masih dalam tingkatan hapalan, belum masuk ke tekhnik bahkan penghayatan. Jadi masih bisa dikatakan kalau saya menari masih dalam tahap isa jogedan.


Ada yang masih menjadi tanda tanya besar bagi saya mengapa hampir disetiap tarian jawa tidak lakon pria atau wanita mereka kebanyakan melakukan apa yang dinamakan Beksan Muryani Busana atau bahasa sekarang merias diri, kalau tarian kakung (tari untuk Laki-laki) biasanya dimulai dengan teplak asta alias tepuk tangan, kemudian atrap jamang, miwir rikma, miwir boro dan masih banyak lagi. Itu belum yang untuk tari putrinya lho… Makanya saya memberi judul Gunungsari, Pangeran Pesolek Asli Kediri, hampir semua gerak tarian ia merias diri dan Kediri memang dikisahkan ia sebagai pangeran Kediri.

Nahhh… ini adalah foto-foto saya hasil bidikan Echa rekan saya, ketika malakukan tarian. Enjoy it…!







Thus, I want to say Thank you to My Lord, Mas Alin, Ibu Tiyah, Pak Toro, dan Pak Suprih sebagai pembina secara langsung dan tidak langsung, kemudian Mas Papang beserta teman-teman wiyaga yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, Keluarga besar Pujokusuman dan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, pihak Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga M. Ersa Adiprasetya sebagai fotografernya. Thank you all

TIPS WISATA ZIARAH IMOGIRI-KOTAGEDE

Pertama adalah waktu berkunjung. Agar tidak kecelik maka kita harus tahu waktu bukanya, untuk di Imogiri dibuka hanya pada hari Senin pukul 10.00-12.00 dan Jumat pukul 13.00-15.00, dan Imogiri Senin, Kamis, dan Minggu Pukul 10.00-13.00 dan Jumat pukul 13.00-16.00, serta pada bulan Ramadhan, pemakaman akan ditutup untuk sebulan penuh.


Pemakaman Imogiri dan kotagede memiliki peraturan yang sama dalam masalah seragam resmi berziarah, yaitu: baju peranakan, kain batik, dan blangkon. Untuk baju peranakan berbahan kain lurik bercorak biru dan hitam, biasa dipakai oleh abdidalem Keraton Yogyakarta. Dengan kain batik selain bercorak Larangan, Seperti Parang Barong dan Kawung. Sebaiknya kain diwiru ganjil dengan ukuran lebar, selebar 3 jari. Terakhir blangkon dengan bentuk design Kagok Mataram. Bagi yang tidak mau repot, akan disediakan penyewaan baju dengan biaya sewa sebesar Rp 10.000,00.


Bagi wanita harus menggunakan semacam basahan yang terdiri dari kain batik, dan kemben serta bagi yang berambut panjang harus disanggul. Untuk yang menggunakan jilbab, tidak perlu khawatir. Kemarin saya melihat ada peziarah yang menggunakan bawahan basahan dengan jilbab di kepala serta daerah dada sampai leher ditutup dengan kain tambahan yang fungsinya seperti pashmina, jadi aurat tetap tidak terlihat.


Selanjutnya jangan lupa juga untuk mempersiapkan uang pecahan ribuan yang cukup karena di lapangan akan banyak sekali ‘kotak amal’. Seingat saya(baca; edisi maret: Imogiri, ‘Peristirahatan’ Berpeluk Kabut dan Pesareyan Kotagede, Setitik Keheningan dalam Kesibukan Jogja), untuk di Imogiri, terdapat sekitar lima belas wadah sumbangan, dan di Kotagede terdapat (kurang lebih) tujuh wadah sumbangan.

3.21.2011

PESAREYAN KOTAGEDE, Setitik Keheningan dalam Kesibukan Jogja

Begitu meninggalkan Imogiri (baca: Imogiri, ‘Peristirahatan’ Berpeluk Kabut, Edisi Maret 2011) dengan masih berbusana peranakan, saya langsung menuju Kotagede, sudah beberapa kali saya ke Kotagede, tapi kali ini bukan ingin mengantar sedulur belanja, tapi spesial untuk melakukan ziarah.

Terletak sebalah barat laut dari Kota Yogyakarta, kota yang terkenal dengan kerajinan peraknya ini strategis, diapit oleh dua sungai, menjadi pilihan bagi Panembahan Senopati untuk mendirikan ibukota dari kerajaan yang beliau dirikan. Sebagai pusat pemerintahan yang masih mengacu kepada pola tata letak ruang pada jaman kerajaan Hindu-Budha, maka Panembahan senopati juga mendirikan kedatonnya sama seperti itu. Namun yang tersisa saat ini hanyalah Masjid Agung, tembok, dan Watu Gilang yang dulu berfungsi sebagai singgasana raja.

Karena waktu sudah hampir siang, dan area pemakaman tutup pada pukul satu siang, maka saya langsung menuju area pemakaman yang ternyata ada rombongan yang sepertinya dari Universitar Tri Sakti (lagi KKN mungkin ya?). begitu masuk saya langsung diarahkan menuju pusara Panembahan Senopati, tapi karena penuh, saya menuju pusara milik ayah angkat beliau, Sultan Hadiwijaya (Sultan pertama Kesultanan Pajang).

Sama seperti yang saya lakukan dalam setiap ziarah, saya melakukan rangkaian dari mulai qashidah pembuka, yasinan, tahlilan, sampai dengan qashidah penutup. Suasana di pesareyan di Kotagede tidak jauh beda dengan di Imogiri. Gelap namun luas, jadi sekitar kurang lebih dua puluh pusara ada dalam satu atap limasan.

Banyak sekali tokoh terkenal yang terdapat dalam cerita sejarah dimakamkan disana, terutama pada masa berakhirnya Kesultanan Demak sampai berdirinya Mataram Islam. Jadi jangan heran, jika Ratu Kalinyamat yang bahkan kerajaan Perancis pernah mengirimkan delegasi untuk meminta restu dalam melakukan perdagangan di nusantara, pusara beliau ada di Kotagede. Begitu juga Ki Ageng Mangir yang terkenal akan separo pusaranya yang berada di dalam dan setengah bagian di luar tembok komplek pemakaman, dikarenakan Panembahan Senopati menganggap dirinya sebagai menantu juga musuh.

Ada yang paling berkesan ketika saya berhasil menemukan pusara leluhur saya, Sunan Amangkurat Agung. Ya, yang reputasinya terkenal kejam*; membunuh puluhan ulama tembayat, menghabisi nyawa seluruh selir, bertikai dengan putra mahkotanya sendiri, melakukan persekutuan dengan kompeni yang sebelumnya diperangi oleh ayahnya sendiri, bahkan sampai memutuskan hubungan diplomasi dengan Kesultanan Makasar, yang ketika itu dipimpim oleh Sultan Hasanuddin. Pasalnya, menurut juru kuncinya beliau tidak dimakamkan di Kotagede, namun dengan berbekal kebisaan saya dalam membaca aksara Jawa, makanya saya menemukan pusara beliau.
Dahulu saya pernah diajak juga namun tidak sampai masuk ke makam. Saya beserta Simbah pergi untuk melihat kolam yang konon tempat hidupnya Bulus Kuning dan Ikan Urip-urip. Bulus Kuning itu saya pernah diceritakan asal-usulnya. Tapi kalau Ikan Urip-urip ini yang masih teringat dibenak saya. Dahulu juru masak Sultan Agung membuat lauk berbahan ikan yang sangat lezat, saking lezatnya sang sultan memanggil juru masaknya, ketika ditanya apa nama menu olahan ikan tersebut, dijawabnya diolah dengan bumbu urip-urip yang artinya hidup. Kemudian Sultan pun mengulanginya “Urip-Urip” dan seketika ikan yang hanya tersisa tulang belulang tersebut menjadi hidup kembali, karena konon kebanyakan pemimpin pada masa lalu memiliki kelebihan-kelebihan serta karomah yang diberikan Tuhan. Lalu dipeliharalah ikan itu di kolam dekat komplek Masjid Agung. Namun, hanya orang yang sudah menjalani ‘laku tirakat’ sajalah yang mampu melihat, bukan dengan ‘mata telanjang’, karena kedua binatang tersebut sudah dighaibkan.


*: http://id.wikipedia.org/wiki/Amangkurat_I
http://www.terrajawa.net/napaktilas_detail.php?artikel_id=64

3.18.2011

Imogiri, 'Peristirahatan' Berpeluk Kabut



Imogiri, komplek pemakaman Raja-Raja Mataram, bersemayam kokoh diatas perbukitan di selatan Kota Yogyakarta. Imogiri yang berarti gunung berkabut, memang saya menyaksikannya sendiri, bagaimana kabut mengelilinginya. Panorama yang tidak dapat saya lukiskan.


Awalnya saya ditawari untuk naik melalui sisi terdekat dari komplek pemakaman, tapi saya menolak, dengan alasan ingin napak tilas, juga menikmati segala keindahan yang disuguhkan dari bukit ini. Memang untuk memasuki komplek pemakaman terdapat dua akses. Pertama, melalui jalur konvensional, yaitu benar-benar merasakan jerih payah dalam mendaki ratusan anak tangga yang tergelar menuju ke komplek pemakaman. Atau jalur alternatif yang kendaraan dapat langsung parkir disebelah komplek pemakaman. Biasanya jalur ini juga sering digunakan oleh peziarah yang sudah lanjut usia.


Udara yang sejuk dan ditemani kicauan bermacam jenis burung-burung hutan (karena bukit ini juga dilindungi ekosistemnya oleh Kementrian Kehutanan), menemani saya yang sedang mendaki, sehingga sampai ke pemakaman tanpa terasa. Yang saya rasakan, ketika ingin berganti baju peranakan (baju dinas terbuat dari kain lurik biru berselang hitam yang biasa dipakai oleh abdidalem Kraton Yogyakarta, yang konon merupakan baju kesukaan Sunan Kalijaga), keringat keluar deras tanpa henti, sampai beberapa saat saya harus mengkipasi tubuh saya. Saya jadi sempat berpikir kalau tangga-tangga itu bisa menjadi alternatif untuk latihan cardio, alias pas buat yang ingin membakar kalori.

Pemandangan dari Imogiri

Memasuki bilik pertama atau yang sering disebut bangsal kasultanagungan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Sultan Agung (1593-1645) yang dijaga oleh abdidalem dari dua istana, Yogyakarta dan Surakarta. Disana sangat pantas untuk me-recharge semangat hidup seperti bagaimana perjuangan beliau memperjuangkan tanah Jawa lepas dari cengkraman Kolonial.


Bagi saya tentang perjalanan hidup Sultan Agung yang menarik adalah ketika beliau tetap gigih sampai ‘titik nol’ dan pelajaran nothing impossible at the future, ketika harus mendapati lumbung perbekalan di bakar oleh pihak VOC, sehingga banyak prajurit yang tewas akibat kekurangan perbekalan, dan beliau membalasnya dengan melemparkan mayat-mayat korban perang kedalam sungai-sungai yang melewati Batavia, sehingga disana muncul wabah kolera yang bahkan Gubernur Jendral VOC saat itu J.P. Coen harus meninggal dalam wabah itu. Jadi dapat dikabilang kalau perang merebut Batavia, Mataram tidak kalah telak alias zero-zero.


Persis di samping makam beliau terdapat lantai yang mengeluarkan aroma wangi. Wanginya seperti wangi mawar segar, tapi tidak membuat pusing, tadinya saya sempat tidak begitu percaya tapi kenyataannya memang seperti itu. Dipercaya bahwa di lantai itulah jasad beliau disemayamkan, guna mengecoh bagi siapa saja yang ingin membongkar makam tersebut, dan memang saya akui memang wangi. Bangsal tersebut di makamkan juga permaisuri beliau Ratu Batang dan cucu beliau Amangkurat Amral dan Amangkurat Mas. Jadi saya sempatkan juga menziarahi beliau-beliau.


Berikutnya saya menziarahi tiga raja-raja terakhir Keraton Yogyakarta, yakni; Hamengku Buawana VII, VIII, dan IX. Pada masa Hamengku Buwana VIII lah tari jawa klasik gaya Yogyakarta mengalami ‘masa keemasannya’. Beliau mengijinkan tarian diajarkan diluar tembok keraton, pakem-pakem diperjelas, pembuatan kostum yang kemudian dibakukan, dan masih banyak lagi.


Kalau Sri Sultan Hamengku Buwana IX tidak diragukan lagi ketenarannya. Banyak sekali jasa-jasa beliau yang masih dapat kita kenang hingga saat ini. Menjadi wakil presiden pada masa Presiden Suharto, Menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan, Beliau juga yang mencetuskan masuknya Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia.


Memang butuh tenaga ekstra untuk menziarahi seluruh makam tersebut, karena selain memang harus menghadapi medan yang tinggi, namun juga siap uang pecahan yang digunakan untuk menyumbang dana pengabdian para abdi dalem. Karena hampir disetiap tempat akan disediakan tempat untuk meletakan sumbangan tersebut.


Selanjutnya saya menziarahi almarhum Pakubuwana I dan Amangkurat Jawi. Makam beliau-beliau ini masih dijaga oleh para abdidalem dari dua keraton. Uniknya begitu saya mau berziarah, ternyata pintunya dikunci oleh dua gembok tua (yang bentuk gemuk, dan kuncinya sebesar jempol orang dewasa), jadi ketika saya harus masuk ada abdidalem dari keraton Jogja dan Solo yang mendampingi saya.


Begitu memasuki bilik pusara Pakubuwana I, yang kuncinya dipegang oleh abdidalem asal keraton Jogja. Suasana yang hampir sama dengan makam-makam yang lain, ditutupi kelambu, dan sumber sinar berasal dari sebatang lilin. Selesai berziarah, saya menuju senthong(bilik atau kamar tengah di dalam rumah adapt jawa) tempat pusara Amangkurat Jawi berada, dan saya pun berziarah disana.


Setelah itu saya mengakhiri perjalanan ziarah saya di Pajimatan Imogiri ini dengan membaca qasidah penutup yang diciptakan oleh seorang ulama dari Hadramaut, yang intinya mendoakan akan kebahagian bagi mereka yang kita ziarahi. Ada kepuasan tersendiri dalam diri saya bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi Imogiri dan ajimumpung saya masih di Jogja, makanya sayang sekali untuk dilewatkan.


Selama berziarah saya tidak sendiri, ada beberapa kelompok dari wisatawan asing dan pegawai Sekolah Polisi di daerah Banyubiru, dan mereka tetap harus menggunakan busana wajib untuk berziarah. Bagi saya melihat mereka terkesan unik, mungkin karena bukan pakaian dinas kesehariannya.



Begitu meninggalkan saya sempatkan untuk membeli ‘minuman sampah’ khas Imogiri atau yang dikenal sebagai Wedang Uwoh. Bukan berarti sampah beneran, tapi karena bahan bakunya yang mudah diperoleh di hutan sekitar makam, kalau digabungkan seperti segenggam sampah, tapi untuk masalah rasa tidak diragukan lagi bagi pecinta minuman herbal tradisional, rasa hangat segera menjalar ke seluruh tubuh.


1.20.2011

Pekalongan, 11.01.2011

Seperti angka keberuntungan bukan? 11.1.11 hehehe semoga hari ini dapat lebih baik dari kemarin. Baru saja saya selesai mandi, setelah mengawali pagi dengan pergi ke pasar dengan Mas Harsono, lalu kami melanjutkan traveling dadakan menuju klenteng tua di belakang Gereja Santo Petrus. Karena memang saya suka dengan sesuatu yang berbau kebudayaan juga sacral, saya memberanikan diri untuk masuk ke klenteng.

Sebelum masuk saya ragu, boleh masuk atau tidak. Tiba-tiba ada bapak tua keturunan tionghoa mempersilahkan kami masuk saja. Maka, langsung saya sambut ajakan beliau. Dalam klenteng terdapat tiga bilik utama, yaitu Bilik Dewi Kuan Im, Bilik Maha Dewa agama Tao, dan Bilik Dewa ‘Tuan Rumah’ Sang Dewa Pengobatan dan Dewa Perdagangan.

Saya banyak bertanya tentang terutama masalah peribadahan mereka. Mulai dari sebenernya dewa-dewi itu siapa, sampai bagaimana tatacara beribadah. Saya ikut melakukannya juga lho… hehehe… Bakar hio sampai meletakkan hio-hio itu di pedupaan. Benar-benar seperti orang sembahyang. Saya selama menjunjung hio berkata dalam hati, “Siapapun anda, anda adalah termasuk manusia yang mengubah dunia. Saya mengagumi dan menghormati anda.”.

Selepas dzuhur saya mengicipi rumah makan yang menjajakan masakan khas Pekalongan. Ada rawon pekalongan, pecel bakar (ikan laut bakar, kemudiandisakjikan diatas cobek berisi sambal mentah), dan sum-sum bakar yang lumer di mulut. Enak sekali.



Kami sowan ke kediaman Habib Muhammad di Jalan Progo, disana kami disuguhi kudapan salah satunya khas timur tengah yang menjadi favorit saya, yaitu Sambosak. Selain Habib Muh adalah seorang pengobat tradisional ia juga sebagai sufi sekaligus seniman. Habib Muh memiliki seperangkat gamelan bantuan dari Mas Afif Syakur (Subhanallah…). Ada perkataan yang paling berkesan yaitu,”Islam itu agama terbaik, tapi umatnya juaaahat.”. Bagi saya itu adalah pemikiran yang cerdas lho… hehehe.

Kemudian karena waktu menunjukan masih pukul empat sore, maka kami putuskan untuk menuju pantai pasir kencana. Karater pantai ini; jorok, kotor dan tidak terawat. Disamping juga cuaca akhir-akhir ini yang ekstrem, membuat angina begitu kencang. Ada yang menarik perhatian kami ketika ada sekelompok orang menjala ikan dan udang.

Lalu kami melanjutkan ke Pantai Slamaran, bagi saya pantai ini dapat saya katakan ‘mendingan’.
Sepertinya disana warga mulai sadar pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan mereka. Jadi sepanjang jalan selepas daerah Krapyak (kata Habib Muh, disini termasuk pemukiman yang banyak dihuni oleh marga Basyaiban). Namun, pesan saya bagi Pemda setempat, alangkah baiknya kalau tata ruang kota dipikirkan secara matang, Pekalongan memiliki potensi seperti Kota Singapura.